Sabtu, 06 Agustus 2011

Dialah Segalanya

“Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” (Mazmur 73:25-26)

Keadaan maupun goncangan yang terjadi di sekeliling kita sering membuat kita tidak bisa melihat kebaikan Tuhan. Padahal Tuhan mau supaya kita tetap menjadi orang yang setia memuji Dia dalam segala waktu. Susah maupun senang, biarlah kerinduan kita yang utama adalah untuk menyembah Dia.
Pemazmur sanggup mengatasi pergumulan yang ada, sehingga akhirnya dia mengakui bahwa hanya Tuhanlah yang menjadi bagian hidupnya untuk selama-lamanya. Tetapi ada beberapa proses yang dialami oleh pemazmur:

1. MAZMUR 73:2-14
Orang-orang di luar Tuhan kelihatannya sangat mujur dan bahagia. Mereka hidup tanpa kesulitan ataupun kesusahan. Mereka mempunyai lebih dari apa yang mereka inginkan. Padahal mereka menentang Allah.
Kebalikan dengan pemazmur yang selalu dihina, diperas maupun ditentang. Pemazmur pun merasa sia-sia dalam mempertahankan hati yang bersih.
Hal ini sering menimpa setiap orang yang percaya kepadaNya. Tetapi bukankah kita dipanggil untuk mengikut Dia dan memikul salib-Nya (Luk. 14:27)?

2. MAZMUR 73:15-20
Pemazmur sampai kepada tingkat dimana dia masuk dalam hadirat Allah. Dia melihat kesudahan dari orang-orang fasik. Ada penghukuman bagi orang-orang fasik.
Sudut pandang pemazmur diubahkan saat dia masuk dalam hadirat Allah. Biarlah kita senantiasa menjaga hubungan kita dengan Allah, sehingga sudut pandang kita juga senantiasa selaras dengan sudut pandang Allah.

3. MAZMUR 73:21-28
Saat pemazmur tetap dekat dengan Tuhan, bukan berarti keadaan langsung berubah seketika. Tetapi justru kita sendiri yang akan diubahkan oleh Tuhan. Kita akan diangkat masuk ke dalam kemuliaanNya. Sehingga tidak ada hal lain yang lebih besar, yang kita ingini, selain Yesus. Sekalipun keadaan tidak seperti yang kita inginkan, tetapi mata hati kita tetap tertuju kepada Allah. Hanya Dia yang kita inginkan, jauh melebihi segalanya.

Biarlah hanya Yesus yang menjadi pusat kehidupan kita. Jangan biarkan keadaan apapun mengalihkan perhatian kita dari kebaikan Allah. Tetap tinggikan Yesus di atas segalanya.
Jangan iri kepada keberhasilan orang-orang di luar Tuhan. Berkat telah Tuhan sediakan bagi orang yang setia kepadaNya. Bina keintiman dengan Tuhan setiap waktu. Utamakan Yesus dalam segala hal, dalam apapun kegiatan/pekerjaan yang kita lakukan.
“Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.”
Mazmur 73:1


Di mana Perabot Anda?


Ada seorang pengembara tiba di sebuah negeri di Timur Tengah. Orang ini mendengar ada seorang bijaksana di negeri itu, dan ingin menemuinya. Pria bijaksana itu dikenal saleh, dan baik hati sehingga sangat dikasihi banyak orang. Untuk itu tidak sulit menemukan pria bijaksana itu. Ketika pengembara itu bertanya dimana rumahnya, setiap orang yang ditemuinya langsung menunjuk ke arah ujung perkampungan dimana berdiri sebuah gubuk reyot.
Ketika ia mengetuk pintu gubuk itu, muncul seorang pria tua yang mempersilahkan ia masuk. Pengembara itu sangat terkejut mendapati bahwa pria bijaksana itu tinggal di gubuk reyot yang isi rumahnya hanyalah sebuah meja, sebuah kursi, satu kompor dan alat memasak saja.
Karena merasa tidak nyaman, pengembara itu bertanya, “Dimana perabot rumah Anda?”
Orangtua tadi balik bertanya dengan lembut, “Mana milik Anda?”
“Tentu saja di rumah saya. Kan saya sedang merantau, tidak mungkin saya membawa perabotan saya,” jawab pengembara itu.
“Saya juga,” jawab orangtua yang bijak itu. “Saya kan sedang merantau di dunia ini.”
Apakah Anda sadar bahwa kita sebenarnya perantau di dunia ini? Rumah kita adalah di sorga, dimana Yesus sedang menyiapkannya bagi kita. Namun banyak orang saat ini melupakan bahwa diri mereka adalah perantau sehingga yang mereka sibukkan adalah mengumpulkan harta di dunia ini. Pada hal pada akhirnya semua harta dunia itu tidak dapat mereka bawa ketika tiba saat untuk pulang ke rumah Bapa di Sorga. (RHKER’S)
Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. (1 Petrus 2:11)

 

Kamis, 21 Juli 2011

MENCAPAI KESEMPURNAAN HIDUP

oleh Simon Petrus pada 18 Juli 2011 jam 10:05
(Ayub 42:17)
“Maka matilah Ayub, tua dan lanjut umur”

Dalam tafsiran Perjanjian Lama kata tua dan lanjut umur artinya adalah ”dimana Ayub bukan hanya diberikan Tuhan umur yang panjang tetapi dia juga diberkati dengan luar biasa sampai akhir hidupnya.” Hal ini saya simpulkan bahwa Ayub mencapai kesuluruhan kesempurnaan hidup. Seperti yang telah kita ketahui Ayub pada awalnya seorang yang diberkati Tuhan, tetapi dia pernah mengalami kekandasan dalam hidupnya bahkan dia menderita sakit kulit yang membuat dia akan dijauhi oleh orang lain dan yang menarik dari kisah Ayub ialah dia dapat bertahan sampai penderitaannya berlalu yang akhirnya Tuhan pun memulihkan hidupnya lebih dari sebelumnhya.
Mungkin kita pernah mengalami penderitaan seperti yang dialami oleh Ayub tetapi itu tidak menjadi penghalang bagi kita untuk dapat mencapai kesempurnaan hidup. Tentunya semua kita pasti rindu punya pengalaman yang indah seperti Ayub, bahwa Tuhan bekerja bukan setengah-setengah pada hidup Ayub. Nah, yang menjadi pertanyaan penting adalah bagaimana caranya supaya kita dapat mencapai kesempurnaan hidup?
1. Mengikut Tuhan dengan benar (ayat 7)
42:7 Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Téman: "Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.
Disini Tuhan menyatakan murka-Nya kepada sahabat-sahabat Ayub karena mereka berpikiran yang tidak benar terhadapa Tuhan. Mereka menganggap bahwa penderitaan yang dialami Ayub itu tidak pantas bagi orang yang dikasihi Tuhan. Tetapi lewat pengalaman ini kita boleh sadari bahwa Tuhan tidak pernah berjanji bahwa orang percaya tidak akan mengalami masalah tetapi Tuhan berjanji Tuhan menyatakan kuasa-Nya dalam setiap masalah orang-orang percaya.
Dan Ayub sekalipun dia menderita dan kehilangan segala sesuatunya tetapi dia mampu berkata kepada Tuhan "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.”saya yakin benar bahwa ungkapan ini hanya mampu diungkapkan orang-orang yang mengikut Tuhan dengan benar.
Penderitaan yang dialami Ayub bukanlah penderitaan yang ringan, bahkan tidak banyak orang meninggalkan Tuhan ketika diperhadapkan dengan hal seperti ini. Tetapi Ayub tetap mengikut Tuhan dengan benar (Ayub  1:22) Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.” Jadi, kalau kita kita rindu mencapai kesempurnaan hidup dalam kesempatan yang kita miliki ini marilah kita mengikut Tuhan dengan benar karena Tuhan hanya mendengarkan permohonan orang yang sungguh-sungguh pada-Nya.

2. Hidup mengampuni (ayat 8-9)
”Oleh sebab itu, ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu, dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub."
Maka pergilah Elifas, orang Téman, Bildad, orang Suah, dan Zofar, orang Naama, lalu mereka melakukan seperti apa yang difirmankan TUHAN kepada mereka. Dan TUHAN menerima permintaan Ayub.
Kalau kita mengamati ayat ini, disini Tuhan menyuruh ketiga sahabat Ayub supaya membawa persembahan kepada Ayub dan Ayub nanti akan berdoa untuk sahabatnya. Nah, saya menafsirkan ayat ini bahwa maksud Tuhan di situ adalah supaya sahabat-sahabatnya datang kepada Ayub menyesali apa yang sudah mereka ucapkan kepada Ayub selama Ayub dalam penderitaan. Dan akhir ayat 9 dikatakan ”dan Tuhan menerima permintaan Ayub” kalimat ini sangat jelas membuktikan kepada kita, tidak mungkin doa Ayub sampai dan diterima Allah jika Ayub tidak mengampuni sahabat-sahabatnya itu dalam Matius 5:24 berkata; ’tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” inilah yang dilakukan Ayub ketika sahabat-sahabatnya datang mengahampiri Ayub lalu dia berdoa kepada Tuhan untuk sahabat-sahabatnya.
Bagaimana kita dapat berdoa bagi orang yang sudah menghina kita, menjauhi kita, bahkan tidak peduli lagi kepada kita saat kita mengalami kesusahan jika kita tidak punya kasih yang dapat mengampuni?  Inilah yang perlu ada dalam hidup kita jika kita rindu untuk dapat mencapai kesempurnaan hidup.
Jadi hal yang menonjol dari bagian ini adalah bahwa bagaimana kita harus selalu hidup dengan dapat mengampuni orang lain supaya doa kita diterima Tuhan. Saudara apa yang menjadi doa saudara saat ini? Hiduplah mengampuni maka Tuhan akan mendengar dan menjawab doa saudara.

3. Menjadi berkat bagi orang lain (ayat 10)
”Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu”
Menjadi berkat bagi orang lain bukanlah gampang karena dibutuhkan pengorbanan. Tetapi Ayub tahu persis melakukan yang berkenan di hadapan Tuhan. Ayub dalam ayat ini dijelaskan bahwa dia mampu menjadi berkat bagi sahabat-sahabatnya sedangkan dia dalam keadaan menderita. Satu hal yang sangat luar biasa yang menjadi praktek hidup Ayub sehingga Tuhan pun memulihkan hidupnya hingga dua kali lipat dari yang dahulu yaitu dia menjadi berkat bagi teman-temannya dari mana kita dapat tahu dari doa-doa Ayub.
Seberapa banyak di antara kita yang memilika hati rela memberkati orang lain meskipun kita dalam keadaan diberkati? Tidak sedikit dari orang-orang Kristen sekarang ini yang siap memberkati orang lain dari apa yang ada padanya walaupun hanya doa saja. Tetapi Ayub saat susah sekalipun dia mampu menjadi berkat bagi orang lain yaitu DOA.
Melalui kisah Ayub ini saya yakin dan percaya jika kita mau belajar dan melakukan seperti yang dilakukan oleh Ayub ini maka kita sebagai orang percaya akan mengalami pemulihan dari Tuhan, berkat dari Tuhan, dan mampu mencapai kesempurnaan hidup. Tuhan Yesus Memberkati.



tanya jawab

Pengikut